Posts

Menelan Sebulat Bulan

Kau adalah puisi tentang kegelapan di langit yang menolak disebut pagi. Sinarmu membaca mata takjub pada kolam dalam hening. Bagai ikan hias berenang di samudera luas, sebentar jerit cipratan tanpa kata naik bagai gelembung. Kau juga rumah yang menolak memakai atap kecemasan, karena warna perak kebekuan sudah cukup menghantui. Kau beri bayang, disisi lain kau mencintainya hingga telanjanglah ia di matamu yang terang. Segala pepohonan kau beri sapuan kapas seputih mimpi, yang berjalan dalam kegelapan demi kegelapan dan tiba-tiba kau datang dengan percikan tawa dan canda di pucuknya. Dengan angkuhnya kau membesarkan diri sendiri. Menatap perih pada titik bintang yang hanya kau sentuh, sintuh semakna kesombongan. Mungkin dalam hati kau berkata "Betapa sedihnya hidup ini, kau terlalu kecil tak sebesar harapan dan dugaan". Jalan-jalan yang kau ludahi penuh debu pada sesalnya. Ia bosan disebut jalan juga setapak, demi sol sepatu kasar yang menancap pedih. Ia ingin di sebut ular...

Sepiring Dadar

Aku mencintai kuning Warna terang dan putih Setengah matang di atas piring Sebagai sarapan ternikmat pagi ini Keringat yang bening sesegar air dalam gelas Lalu kuteguk tanpa jedah itupun ku suka Seperti mengisi pori-pori kulit menetes dengan semangat Udara dengan pohon burung mata merah di ujung damar laut Keteduhan atas rerimbunannya dengan segala semak Guguran jati menggenangi jalan setapak Suara hiruk pikuk canda burung Lalu nafas yang mulai mengenal hangat pagi Itupun aku suka Kemudian suara-suara. Banyak sekali suara mengular mengulur di sisi jalan Bernyanyi riuh. Berseragam kuning merah Bertepuk suka ria menginjak aspal yang masih saja bermalasan Mengukur panjang jalan itu dengan jantungnya yang berdenyut Mendendangkan mulut-mulut bersuara padu Seakan mengusir jarak karena lari awal kini berakhir Pun begitu. Kita sama suka. Kini dadar itu tak berbekas sama sekali Begitu pula air dan juga keringat Kemana semua mereka Ini masih pagi Siang belum lagi datang ...

Bukan Atheis

Dia tidak atheis lagi Nyatanya ia mengundang buka puasa bersama "Tak ada kamu ga' asyik!", celotehnya saat itu Meski ku tahu puasa yang dilakukan hanya sekedar Karena itu bulan puasa dan semua orang melakukannya Lalu facebook dan bbmnya pun mengucapkan "Selamat berbuka dan mohon lahir batin" Dan hingga shalat ied pun ia di saf paling depan Dalam hati kuberucap "Semoga yang wajibpun kau tak pikun" Sudah lama sejak pengakuannya yang mengejutkan "Bahwa agama atheis adalah yang terbaik dan tidak munafik Beda dengan agama kita sekarang yang hanya seremonial belaka" Kini kau datang dengan keyakinan baru pandangan baru meski tak sempurnah Kau duduk di tempat mu yang terakhir Dan berkata "Aku tak bisa mendengar adzan lagi, kepikunan sudah merasuki, dan kafan itu terlalu kuat mengikat tubuhku" "Aku sudah terlambat untuk kembali, tubuh rentah dan jasad beku" "Lalu apa lagi sekarang?" Aku terdiam hening Dan...

Kenangan

Masih ada satu udara yang ku hidup sedari kecil Dalam udara itu asap dapur mengepul di langit-langit Sementara kepalaku berbantal paha gemuk ibu yang sibuk Udara itu terus ku hirup hingga kini ketika ke dapur ingin kembali Udara di pagi menjelang shalat ied dan kami berdua Banyak sudah kayu yang terbakar di sudut ruang Potongan bawang serta penumbuk berserakan di lantai Kita masak apa ? Mungkin ayam karena sedari tadi kudengar bunyi kokok dari belanga Mungkin juga ketupat kenangan karena baunya buat mataku terus terpejam Bunyi kretek dari kayu bakar memaksa terus bermimpi Tentang ibuku yang sibuk dan aku yang menikmati Lalu kuputuskan untuk terus tertidur dalam paha gemuk itu Mungkin inilah cara agar kita terus terhubung dengan masa lalu Membayangkan kabut asap menerangi pagi dingin yg sejuk Seakan medan waktu berlompatan dalam kepala Merakit jembatan masa lalu ke masa kini Tali-tali jembatan itu belum lagi putus Namun di bagian tertentu nampak berbulu dan awas Ibu pu...

Hidup layaknya sebuah puisi

Hidup layaknya sebuah puisi Dan manusia sebagai kata-kata Kita lipat kata dengan kata hingga jadi sebuah kalimat Memberi pengandaian ketika kita tak lagi cermat Menambal imajinasi di sana sini biar lebih kreatif dan kaya makna Lalu semua berasa berlebihan dan hanya menambah rasa Suasana memberi latar belakang cerita Terkadang pengalaman terekspos sebagai berita Jangan lupa nada panjang pendek irama Agar jadi pemanis kenangan bernama rima Bait demi bait yang terbentuk menyajikan keelokkan tersendiri Karena semua dapat tempat semua dapat hati Percayalah larik-larik yang kita padu akan membentuk karya Semakin memperjelas siapa dan apa peranan yang kita cipta Kata per kata cenderung membentuk metrum dalam tiap kalimat Begitu pula kisah hidup ini selalu ada pesan dan kesan yang khidmat Baca dan renungkan sajak hidupmu yang mengharu biru juga mengundang tawa Sekeras selantang deklamasi menghiasi suka duka Karena lagu dunia takkan indah tanpa kata-kata puitis Sebagaimana ki...

Kantuk

Ketika mulut membuka bagai Kaiman* hanya dua alasannya Pertama karena rasa lapar yang datang tanpa di undang meski waktu makan siang belum lagi tiba Dan yang kedua saat sinyal-sinyal alam bersekutu dengan alarm tubuh Kolaborasi yang sangat fantastik Alhasil dua pasang kelopak mata yang bersayap bulu perindu bah kelopak mayang bersemu semakin berat Roh ayam yang tiba-tiba menyeruak mengajak leher terkulai Seiring mata menutup secara perlahan Di sinilah proses awal yang sangat menentukan Pertemuan dua kutub yang saling mencintai Bagai Romeo dan Juliet yang hanya saling berpeluk di dunia kematian Sayap-sayap cinta yang akan saling berpanggut dalam damai Memeluk gelora asmara yang kian lama dibawanya ke samudera luas Dilepasnya layar mimpi ke deru angin yang makin menyala Dikibarkannya bendera pelayaran sebagai simbol dunia laut telah mulai dijelajahi Ketika bola mata semakin memutih dan bola hitampun menghilang dalam gelap Ketika itu ketidaksadaran bagai awan putih di langi...

Hujan

Air yang berjatuhan dari langit mengingatkan aku pada malam dimana kita kebasahan Saat itu rambutmu yang hitam jatuh melekat di pipi serta leher jenjangmu Rasa dingin yang menggigil ini pun bukan dari tiupan angin di sela pepohonan Namun dari ingatan saat itu Ketika kita terjebak suasana kikuk saat tak sengaja bersentuhan tangan Berkali-kali kuusap wajah bukan karena air yang menetes Namun sekadar ingin menyadarkan diri bahwa aku sedang berkhayal lagi tentang malam itu Malam di mana kau dan aku berpeluk beku di atas motor menembus malam membelah hujan Kaki ini pun segera kularikan di atas genangan air hanya sekedar untuk berusaha melupakan kenangan itu Kenangan di mana kita mudahnya merangkai kata "sayang" dan bibir secara lugu berucap "untuk selamanya" Setibanya di pintu rumah kudapati dirimu berdiri di sana Namun ternyata itu hanya bayang semu karena yang kini hadir hanyalah pintu kosong dengan titik air merembes dalam pikiran Dunia apa ini, yang segal...