Posts

AKU BERADA DI DALAMMU

Aku Berada Di DalamMu WajahMu ribuan titik sinar menghujam dari sesela pohon Aku hanyalah keremangan dedaun bergerak liar di antara dahan yang rapuh Bila tangan tak mampu menggapai apalagi pandangku tak kuasa menahan gemerlap bias Bila cahya begitu terang lagi membutakan mungkinkah kesadaran menerawang hingga akhir Engkau panas lampu tempel dalam pondok berjelaja bambu dengan sulur-sulur benang minyak yang pekat mengeluarkan asap dan aku hanyalah seekor laron kecil mencoba melihat lebih dekat tanpa sadari sayap telah terbakar dan mati Di dapur beratap daun kering dan bertungku batu Engkau pula api yang meretas di antara kayu bakar dan setelahnya tinggal aku menjadi debu beterbangan Bagaimana pula menggapaiMu sementara aku berada di genggamMu Bagaimana harus mencariMu Sementara aku berada di dalamMu Kdi, 28 Februari 2018

Demi masa

‌Al Asr DEMI MASA Waktu Detik bergulir Segala juga sesuatu Membuat kita terlena. Terjungkir. Hingga bodohnya kita. Tersadar. Daun satu-satu melayang Senja bersandar Meremang Sia-sia Betapa kerugian Menggulung dada manusia Karena esok tampak bepergian Tinggal kenangan sesal kecewa Mengendap meraba derita Tangis tertawa Semata Sungguh Waktu bergulir Masa tak merengkuh Semua akan terus mengalir Tiba-tiba maut datang menyapa Malam hanya kegelapan Hitam menyala Penyesalan Ibnu Nafisah 25 Februari 2018

Anak Ilalang

Kami adalah anak ilalang Tumbuh tanpa takut Rela terhalang Maut Kematian Hanyalah kata-kata Seribu ilalang bergantian Memenuhi tanah lapang cita-cita Sekali engkau mencongkel mata Sedetik jangan berpaling Mata hilang Mata Bakar! Injak-injak kami Setelahnya larilah! Menghindar Sehingga bayanganmu tiada lagi Karena musim tak tentu Tetes embun beku Satu dua Terbuka Bunuh! Cincang kami! Tunjuk pedang panjangmu Sekali menebas pastikan mati Kami takkan lari. Gentar. Demi sejengkal tanah Setetes air Kemerdekaan Yah! Engkau boleh Apapun engkau mau Engkau boleh. Buat semaumu Tapi waspadalah pada hujan Seribu ilalang menghutan Bagai militan Cekatan Pilihlah! Engkau mati Atau kami melakukannya Meski nyawa telah terpisah 17 Februari 2018

DUKA

Duka Mengapa harus ada duka Ada yang terluka, Darah tersayat Menyayat Perih Terasa nyerih Tertusuk amarah dendam Membasahi segenap diri meredam Bukannya kita seorang samurai Sehabis perang terlerai Hanya tersenyum Terkulum "Hebat" Ucapmu sekelebat Sementara cairan memerah Membasahi hakama tanpa nyerah Lalu berjanji mengulang kembali Bertemu saling menanti Menunggu mati. Lagi. Tidak. Kau - Aku Hanyalah mata pedang Berharap menebas pantang meradang Mengeliat sekelebat terpaku seketika Akhirnya  kesadaran datang Membawa lara Tersarang Kalah. Sebagaimana samurai Tertatih-tatih jatuh berderai Pulang membawa luka bersalah KDI/18/01/2018

Sita

Sita Di bawah bayang-bayang hari yang lalu Ia tumbuh serupa lumut paku Bermekaran di sesela pohon dedalu Kandaka semayam rasa dahulu Matanya adalah perigi mengalir Mengisi petak-petak sawah bergilir Lama. Lama sekali masih berair Tertulis di buku kalbu sang penyair Seruling entah dari saung mana Gemanya memantul di masa lampau Nyaring menggetarkan stalakmit jiwa Kadang di lembah bersama kepakan silampukau Dua curug di wajah gunung Serupa senyuman kembali merenung Kadang tawanya pecah di tebing rindang Terbawa suara burung kepodang Matanya dalam nan hitam Airnya jernih mungkin dulu nampak kelam Sekarang hanya gelombang kecil di sana Tenggelamkan aku di masa yang lama Kini hanya nampak punggungnya berjalan di pematang Bulir-bulir padi menguning mencoba menahan langkahnya Tapi bayangnya terus merebah semakin memanjang Hingga semburat cahaya barat semakin gelap di belakangnya Apakah ia mencoba mengatakan ini hanya sebuah lukisan Gambaran masa silam yang tak mudah ...

PERIHAL BATU-BATU BISU

Perihal Batu-Batu Bisu Alam telah banyak bercerita Tentang batu-batu yang tak bersuara Jika ia seorang lelaki maka ia diam Layaknya pengelana malam Di pantai di mana ombak berkejaran Buih-buih putih berlarian Tubuhnya bergeming tak terbantahkan Diterjang asin lautan Angin bergemuruh di daun-daun nyiur Membuatnya berontak terpekur Layaknya anak kecil dengan gulali Menatap tanpa mampu membeli Bilamana air pasang hingga kepala Diselimuti tubuhnya oleh hening belaka Sebagaimana mata remaja dikehampaan Terkurung dari masa kegundahan Di malam seputih perak Cahaya bulan bersinar terang Bayangnya tak bergerak Bagai tugu hantu yang menantang Pun surut hingga jauh tak berair Bongkahannya hanyalah gagu Tanpa tetesan air mata yang mengalir Nampak bukit-bukit mengadu Orang bilang ada pula mercusuar Berdiri di sela-sela pepohon Memancarkan sinar ke luar Namun ia pun tak peduli dan memohon Keadaan telah buat hatinya membatu Mengeras dan cadas Tak lunak seperti air membe...

MUSSAENDA

MUSSAENDA Kumenemukannya bersemayam di halaman yang anggun tak seberapa luas Menengadahkan wajah diantara reranting sewarna kuas Bila kabut menampar pagi dan tubuhnya hanya beku diremputan Segala rapalan yang ia sebutkan dalam bibir sesepi kuburan Tiada lagi tangisnya di udara sebagaimana sinar pertama mengecupnya Pun tawa yang terdengar jauh di entah sebagaimana rintik hujan jatuh memeluknya Dari teras rendah beratap sepi kumelihatnya mengecap sesal Alih-alih bertapa hilangkan gundah kelopaknya jenuh terasa gagal Karena resah tanah menangkupnya jatuh Sementara gelisah jiwa menangkapku rapuh Kendari, 16 Oktober 2017 IBNU NAFISAH