Posts

DUKA

Duka Mengapa harus ada duka Ada yang terluka, Darah tersayat Menyayat Perih Terasa nyerih Tertusuk amarah dendam Membasahi segenap diri meredam Bukannya kita seorang samurai Sehabis perang terlerai Hanya tersenyum Terkulum "Hebat" Ucapmu sekelebat Sementara cairan memerah Membasahi hakama tanpa nyerah Lalu berjanji mengulang kembali Bertemu saling menanti Menunggu mati. Lagi. Tidak. Kau - Aku Hanyalah mata pedang Berharap menebas pantang meradang Mengeliat sekelebat terpaku seketika Akhirnya  kesadaran datang Membawa lara Tersarang Kalah. Sebagaimana samurai Tertatih-tatih jatuh berderai Pulang membawa luka bersalah KDI/18/01/2018

Sita

Sita Di bawah bayang-bayang hari yang lalu Ia tumbuh serupa lumut paku Bermekaran di sesela pohon dedalu Kandaka semayam rasa dahulu Matanya adalah perigi mengalir Mengisi petak-petak sawah bergilir Lama. Lama sekali masih berair Tertulis di buku kalbu sang penyair Seruling entah dari saung mana Gemanya memantul di masa lampau Nyaring menggetarkan stalakmit jiwa Kadang di lembah bersama kepakan silampukau Dua curug di wajah gunung Serupa senyuman kembali merenung Kadang tawanya pecah di tebing rindang Terbawa suara burung kepodang Matanya dalam nan hitam Airnya jernih mungkin dulu nampak kelam Sekarang hanya gelombang kecil di sana Tenggelamkan aku di masa yang lama Kini hanya nampak punggungnya berjalan di pematang Bulir-bulir padi menguning mencoba menahan langkahnya Tapi bayangnya terus merebah semakin memanjang Hingga semburat cahaya barat semakin gelap di belakangnya Apakah ia mencoba mengatakan ini hanya sebuah lukisan Gambaran masa silam yang tak mudah ...

PERIHAL BATU-BATU BISU

Perihal Batu-Batu Bisu Alam telah banyak bercerita Tentang batu-batu yang tak bersuara Jika ia seorang lelaki maka ia diam Layaknya pengelana malam Di pantai di mana ombak berkejaran Buih-buih putih berlarian Tubuhnya bergeming tak terbantahkan Diterjang asin lautan Angin bergemuruh di daun-daun nyiur Membuatnya berontak terpekur Layaknya anak kecil dengan gulali Menatap tanpa mampu membeli Bilamana air pasang hingga kepala Diselimuti tubuhnya oleh hening belaka Sebagaimana mata remaja dikehampaan Terkurung dari masa kegundahan Di malam seputih perak Cahaya bulan bersinar terang Bayangnya tak bergerak Bagai tugu hantu yang menantang Pun surut hingga jauh tak berair Bongkahannya hanyalah gagu Tanpa tetesan air mata yang mengalir Nampak bukit-bukit mengadu Orang bilang ada pula mercusuar Berdiri di sela-sela pepohon Memancarkan sinar ke luar Namun ia pun tak peduli dan memohon Keadaan telah buat hatinya membatu Mengeras dan cadas Tak lunak seperti air membe...

MUSSAENDA

MUSSAENDA Kumenemukannya bersemayam di halaman yang anggun tak seberapa luas Menengadahkan wajah diantara reranting sewarna kuas Bila kabut menampar pagi dan tubuhnya hanya beku diremputan Segala rapalan yang ia sebutkan dalam bibir sesepi kuburan Tiada lagi tangisnya di udara sebagaimana sinar pertama mengecupnya Pun tawa yang terdengar jauh di entah sebagaimana rintik hujan jatuh memeluknya Dari teras rendah beratap sepi kumelihatnya mengecap sesal Alih-alih bertapa hilangkan gundah kelopaknya jenuh terasa gagal Karena resah tanah menangkupnya jatuh Sementara gelisah jiwa menangkapku rapuh Kendari, 16 Oktober 2017 IBNU NAFISAH

PURNAMA

Purnama Ingin kusebut itu sebagai nama Yang bermanja-manja di dada malam Memanggil-manggil rindu dipangkuan kelam Padanya aku meminta meninabobokan Melantun syahdu rayu belaiannya kuimpikan Oh, purnama yang merambati malam Berkejaran dalam jiwa temaram timbul tenggelam Kendari-Madura, 08 Oktober 2017 IBNU NAFISAH-LAYYINA HALWA

RANDU

RANDU Lalu akhirnya sepi kembali pada sunyi Daun-daun kuning berguguran Batang-batang tegas berdiri gersang dan ganas Tidak. Tidak sekali ini angin barat hangat merambat Kelelawar bagai buah busuk menari dirusuk-rusuknya Menjadi dedaun menutupi tubuh tanpa gaun Berdiri kaku sendiri jadi beku oleh senja Kemerahan di kejauhan kegelapan berdekapan Berbisik-bisik diam gemerisik alam Tanganku candu anganku randu Duri-duri tajam menghujam tubuh Oleh dahaga menggelegar gelagah Reranting melenting jatuh beradu bebatu Ditinggal senyap kapuk-kapuk tanggal lindap melapuk Hanya hening yang berdenting ketika gelap datang merayap Kendari, 10 Oktober 2017 IBNU NAFISAH

BILAMANA JAUH

   BILAMANA JAUH Bilamana hari masih pagi Saat kubuka mata Tiada mentari Menyapa Atau Kususuri malam Tanpa bulan merantau Pada taring langit tenggelam Bilamana kucari di mana-mana Padang dinding beku Lantai kelana Semu Hati Katanya dalam Tanpa batas melingkupi Jua luas sebagaimana karam Mungkinkah ini namanya hampa Saat jiwa menjauh Hilang tanpa; Bersauh Tahu Aku tahu Kita telah kalah Saat pertama kali mengalah Kendari, 17 September 2017 IBNU NAFISAH