Posts

PETRICHOR

(Namamu ketika hujan) Kau adalah hujan bagi kemarau di waktu subuh Basahi seluk, peluk tubuh yang kan rubuh Teteskan setitik cinta di tubir bibir Membekap, dekap hasrat yang kian melipir Engkau pula rinai tersemai dalam alam kasihku Basahi seluruh, luruhkan jiwa jemawa nan ragu Pun bunga terlanjur layu, rayu jadi mekar Menunaskan pucuk kuncup semesta sekar Akhirnya kita lahir sebagai ricik yang gemercik Kitalah air mencair, gemerencik sukmamu kian rintik Lalu terbuai dalam alunan lamunan desau gemuruh merisau Lunas tuntaskan persetubuhan tanah pada hujan yang menderau Ibnu Nafisah Kendari, 01 Desember 2015 ------------------------ Catatan Kaki : Gemerencik : Berbunyi seperti bunyi percikan air pada kaca Ricik : Tiruan bunyi hujan yang dibawa angin Petrichor : Aroma hujan pada tanah kering Derau : Tiruan gemuruh hujan di bawa angin Gemercik : Berbunyi seperti bunyi air yang jatuh menimpa genangan air.

HUJAN

Beribu rasa yang tercurah Berkejaran dalam kelenjar darah Satu persatu meresap mengecap dahaga Mencumbui sewindu rindu dibenak telaga Lumat segala pegunungan segara resah Puaskan binal luruhkan banal kelesah Tanah tubuhku berpagutsahutan erangan serangan merintik Menuntaskan tunas cintanya yang dulu tak lagi menitik Membuyarkan lagi kelabu paling deru Birunya langit pun cemburu saling buru Kitalah dua hati kasmaran dalam asmara Bergejolak melonjak menciptacipratkan aksara Meski tersadar bersandar pada cinta kian kelu beku Namun raga ragam jiwaku telah lama damba raba rebahmu Ibnu Nafisah Kendari, 30 November 2015 ------------------------ Catatan Kaki : Kelesah : Gelisah Segara : Laut (an) Binal : Liar Banal : Kasar

SINONGGI

(Engkaulah nikmat yang tak kan pergi ) Ingin kusuapi dahaga rasa lapar akan dirimu. Atau sekedar mengunyah sayur hijau dari paras yang penuh kesegaran. Bahkan denting suara lirih sekalipun kini serupa ikan yang berenang dalam mangkok. Mungkin kau pikir aku gila saat ini. Karena semakin kau berucap rasa kenyang akan semakin terlempar pada piring-piring sagu yang kau sendok. Kita semeja. Pandangan itu membuat jiwa bernyanyi lagu kasmaran. Sayang, tambahkan lagi kuah ikan itu ke dalam hati yang kering ini. Oh, betul saja. Ini kenikmatan kecil yang kau sajikan padaku. Sepiring makanan daerah yang kau beri cinta di dalamnya. Dan rasanya semegah ciuman terkasih pada kinasih. Kaulah rasa lapar sekaligus kelapangan jiwa. Dahaga juga keceriaan kesegaran dunia. Dan biarkan kita habiskan berjam-jam dalam meja cintamu. Ibnu Nafisah Kendari, 22 November 2015 ----------------------- Catatan Kaki : Sinonggi : Kuliner khas Kendari

SAJAK RINDU

#Puisi_Cinta_Sendu(Antologi Puisi Penerbit Mazaya Publishing House), terimakasih bukunya sudah tiba, puisi saya tercetak dengan indah di dalamnya, hehehe ... PUISI PATIDUSA BIAS ******************* SAJAK RINDU (Terinspirasi oleh: Lagu Rindu ;Kerispatih) Bintang Malam penuhi Kirana rindu belintang Menggelimantang rasa sendu hati Ingin lukis langit namamu Pada dingin bumantara Erat pelukku Se-udara Angkasa Tahukah engkau Siapa sang pemuja Berdiri kaku ingin menjangkau Embun kelam itu; aku Bermimpi belai kenya Meski beku Olehnya Sajak Cinta melonjak Tercipta buat dikau Belahan jiwa kian memukau Ibnu Nafisah Kendari, 22 September 2015 ------------------------ Catatan Kaki: Kirana : Sinar Belintang : Terletak melintang Menggelimantang : Memancar Bumantara : Angkasa Kenya : Gadis

SENJA PANTAI AKKARENA

#Puisi_Munajat_Sunyi(Antologi Puisi Penerbit LovRinz Publishing, Karya saya tercetak manis di dalamnya hehehe .... SENJA PANTAI AKKARENA Katakan padaku, wahai laut Riak gejolak pasir mengumpat Senja di dermaga kayu terbaut Matahari sewarna jingga merapat Kita seperti anak belia berenang Terapung saling mengagumi rindu Bercerita pada mereka yang terkenang Mengabadikan angin menderu Kita masih terlalu muda Mudah kecewa pada samudera Lain waktu memuja dunia Tabik dada idealis pada laut meraja Lupa, kitalah asin dalam keterasingan Tergaram dibumbui lika-liku kehidupan Sedang air laut tetaplah lautan Meski menolak menjadi asin dalam pengasingan Wahai anak laut yang koyak Oleh pasangan surut cinta Tetaplah senja 'Kan padam di tengah cakrawala Tetap 'kan bara esok memancarkan cahaya yang sama, setia Ibnu Nafisah Makassar, 06 September 2015 -------------------------- Catatan Kaki : Tabik : (ungkapan untuk memberi) salam, selamat

MAIR

PUISI PATIDUSA TANGGA ********************** Kau datang pagi menyamai Bangkit lalu luruhkan Kembali membuai Menidurkan Bermadah tentang amal ibadah Dosa dulu tengadah Waktu melepuh Rapuh "Selamat tinggal," kaku tercecap Namun tak terucap Nyawa pulang Hilang Jasad ini kini muksa Tiada lagi Rukhsah Segala cerita Derita Tangis duka tak perlu Lampias kata kelu Berakhir kisah Pisah Semua akan sampai muara Berliku hingga samudera Sebelum wafat Taubat Ibnu Nafisah Kendari, 28 November 2015 ----------------------- Catatan Kaki : Lampias : Lancar, deras mengalir Rukhsah : Kemudahan yang diberikan Allah swt karena sesuatu sebab tidak melaksanakan ibadah wajib Mair : Maut, Kematian Bermadah : Memuji-muji, mengucapkan syair (sajak) sebagai pujian Muksa : Tingkatan hidup lepas dari keduniawian

CANDI RATU BOKO #2

PUISI PATIDUSA ORIGINAL ************************ (Petilasan kita terkubur di sana) Kini hanya puing belaka Gapura kokoh berdiri Gelebah melata Sendiri Abhayagiriwihara Kutinggalkan padamu Puncak kedamaian semata Memuja-muji cinta yang jemu Ketika senja pun karam Akulah Rakai Panangkaran Bagai pualam Kasmaran Renjana Kenangan purba Terjebak ribuan silam Masing-masing dari kita tenggelam Tersirat ceruk Wadon Lanang Sampai kini burai Sejarah panjang Berai Jerembun Luka berembun Lalu prasasti tertimbun Wiraga moksa hati merabun Ibnu Nafisah Kendari, 28 November 2015 ----------------------- Catatan Kaki : Jerembun : Keliatan atau muncul dengan tiba-tiba Abhayagiriwihara : Wihara di atas bukit yang penuh kedamaian, berada di situs Ratu Boko Rakai Panangkaran : Raja Mataram yang hidup pada tahun 746-784 Masehi Goa Wadon, Goa Lanang : Wadon wanita, Lanang Pria, berada dalam situs Ratu Boko Moksa : Tingkatan hidup lepas dari keduniawian Prasasti : Piagam dari...