Posts

SOCRATES

PUISI PATIDUSA BIAS ********************** SOCRATES (Akhir drama filsafat hidupku) Aku pikir beginilah akhirnya Kepergian racuni nantinya Seperti Socrates Tewas Kealpaan Suatu kemenangan Kebenaran terusir pergi Menyerah pada sang menguasai Telah kureguk cawan kepedihan Tanpa penawar kesedihan Membawa kaki-kaki Laki-laki Jauh Semakin jauh Tanpa pernah berpaling Terbang beda arah masing-masing Menempuhi masa terbawa angin Menuju antah berantah Mengejar ingin (R)entah Jika Suatu ketika Tanpa batas waktu Kita tersadar senja tersedu Ibnu Nafisah Kendari, 31 Juli 2016

SANG MUSAFIR

SANG MUSAFIR Kaki-kakiku lelah Tubuh serasa ambruk Melewati padang berpasir Menempuhi matahari berhangat Jalan tidaklah mudah Berliku, mendaki penuhi cobaan dan dosa Ya Allah... Aku pasrah di jalanMu Melangkah setapak di sisiMu Ini tidak mudah bahkan juga tidak sulit buatku Namun ini begitu sepi Temani aku Saat susah dan gembiraku Saat sakit maupun sehatku Bahkan ketika maut menjemputku Ya Allah... Temani Hambahmu... Ibnu Nafisah Kendari, 27 Juli 2014

PENIKMAT ROKOK

Kali ini hanya puntungnya ketemu Berserakan di ruang tamu Tiada yang peduli akan nya Pada asbak pun enggan bertanya "Ke mana bibir lembut itu pergi?" Setelah racun terhisap hilang bersama pagi "Di mana tangan membelai mesra?" Ketika tersedut bara ia pun menyerah Hanya udara bercampur asap penuhi Bungkus tergeletak hambur mengotori Tiada penikmat yang kemarin Pecandu cinta kematian Mungkin saja ia sudah jerah Lalu pergi dengan wajah merah Meninggalkan wangi juga sesak Bahkan lipstiknya pun masih tercetak Ibnu Nafisah Kendari, 24 Juli 2016

SEBUAH LAGU

Aku ingin nyanyikan satu lagu Lagu cinta abadi selama masa Aku ingin syairkan satu rindu Puisi kasih cerita hati sejati Kala hari tanpa kata Malam hening menyapa Hanya kita berdua Melantun di antara nada Membingkai melodi doa Hingga mendalam rasa Bila Engkau rela Aku kan bersujud dihadap Mu Sampai terbalas dosa merandu Menyeru menderu mengadu Ibnu Nafisah Kendari, 24 Juli 2014

WORKAHOLIC

Harus katakan kali ini padamu Aku muak mual dengar kata rindu Bibir mendesiskan cinta Sorotan mata manja Senyum tipis undang tanya Tingkah laku serta tawa Semua itu terjadi berulang-ulang Hingga tak bisa pulang-pulang Dua puluh empat jam sehari semalam Tiga puluh hari sebulan kau mendekam Menyita pikir dan waktu Mengambil kebebasan membatu Tidur pun engkau terngiang Malam menjadi siang Makan jadi hal yang langka Hiburan suatu keanehan belaka Apakah harus memberi kantung mata Sebuah anemia hingga kau berhenti di sana? Atau mungkin saja menunggu tubuh rubuh Lalu kegilaan mendera menyerah!? Ibnu Nafisah Kendari, 23 Juli 2016

SESEMBAHAN YANG KAU PERSEMBAHKAN

Mestinya menjadi darah dalam daging Sum-sum tulang di intinya Akar penghidupan pucuk dan daun Sari-sari penuh nutrisi makanannya Otak dari segala perilaku Pengolah pikiran hakiki nantinya Kalbu perasa peka dan sensitif Penyaring segala gejolak hasratnya Kendali menjadi sumber penentu Pengontrol ucap dan laku akhirnya Ibnu Nafisah Kendari, 23 Juli 2016

SEBUAH PANGGILAN

Tak terlihat di mana Namun suaraMu jelas nyata Berkobar-kobar jilat membara Menderu-deru di kalbu meraba Tangan gaib menarik maksa Kaki-kaki seakan bergerak saja Seudara merambat merambah Berdesir menyisir ke sana Bermuara pada Engkau yang Maha Menuntun langkah jatuhkan sembah Ibnu Nafisah Kendari, 22 Juli 2016