Posts

SIREP

PATIDUSA BIAS ************** (Saat senyap menyapa, malam bisikan mantra tidur) Rumah Jendela pintu Resah saling jamah Pun kaki beranjak berlalu Di teras suara hilang Jejak rumput sirna Otak bayang Maya Suara Raung gema Sesak napas hampa Ruang dua kali tiga Tubuh gulat lantai putih Guling ranjang letih Teriak nyenyat Kenyat Diri Tiada petandang Cium bibir sendiri Kamar berulah serupa radang Ibnu Nafisah Kendari, 29 Oktober 2015 ---------------------- Catatan Kaki : Nyenyat: Sunyi senyap, hening Kenyat: Berdenyut Sirep: Sunyi senyap

MANTRA CINTA

Kau adalah hantu Dipikiran malam dingin Datang tiup udara beku Pulalah setan Bisikan kata rindu Di dada kelu Rasa takut kehilangan Jijik ditinggal pergi Hampa sepi berkepanjangan Wajah manis Gelantungan layaknya jelaga Akulah laba-laba rumah tua Rangkai cinta Sulam harap Pada tembok ratap Dan tiap sesajiku Terucap mantra "Aku cinta padamu" Ibnu Nafisah Kendari, 29 Oktober 2015

28 Oktober

PATIDUSA BIAS ************** Langit Merah putih Lambai kepak jengit Robek udara tisik kantih Di bumi pemuda-pemudi belia Tanam sumpah darah Satu tanah Indonesia Mayapada Gejolak muda Gema padu nusantara Rekat seluruh jiwa  bangsa Ikat bahasa aksara negeri Dari sabang merauke Jati diri Komunike Bendera Kian kibar Tantang segala dera Demi ibu pertiwi akbar Ibnu Nafisah Kendari, 28 Oktober 2015 ---------------------- Catatan Kaki : Jengit : Bergerak-gerak turun naik atau maju mundur. Kantih : Benang tenun Komunike : Pengumuman atau pemberitahuan resmi dari pemerintah

Jika

#Event_Motivasi_PSM Jika memang harus Hidup Hiduplah seperti ilalang Meski tanah tandus tak jua putus harapan Jika memang harus Mati Matilah seperti kupu-kupu Meski singkat namun cukup warnai keindahan dunia Ibnu Nafisah Kendari, 28 Oktober 2015

SEJATINYA

Sejatinya adalah tanah yang pandai menyimpan duka atas segala air mata sang pepohon. Menimbun daun dalam belainya yang gugur oleh kecewa. Disandarkannya akar resah dipelukannya penuh hangat. Sejatinya adalah api yang membakar amarah di puncak-puncak kecemburuan sang pengunungan. Akan rindu hujan yang tak kunjung tersampaikan pada ilalang. Hingga beribu kata tanpa maaf terangkai di langit-langit kabut berasap. Sejatinya adalah angin yang pandai memainkan drama ketakutan dan kesakitan lalu membunuh keduanya dalam derita pada bencana yang menjadi buah bibir umat manusia. Sejatinya adalah bumi yang bijak bersemayam dalam doa-doa terdalam. Memanjatkan kidung kedamaian melalui laut yang maha luas serta langit yang maha jembar. Tak pernah henti berharap melalui tangan-tangan tak kasat mata hingga menjadikannya ibu bagi seluruh cinta di kehidupan. Ibnu Nafisah Kendari, 24 Oktober 2015

SABAR

(Seharusnya itu yang kulakukan pada cintaku) Memang kiranya harus lebih sabar menanti hujan, layaknya jati meranggas menunggu belaian air dari sesela jemari lembutnya. Memang perlu lebih sabar menanti hati berubah, seperti kapuk merandu buahkan asa ditiap ranting cintanya. Ibnu Nafisah Kendari, 24 Oktober 2015

HARUSKAH?

Haruskah aku menjadi tanah; menahan jerit panas di atas debu terkepul. Sementara kerongkongan kering tandus membisikkan namamu; air. Haruskah aku menjadi ranggas; menanti kepastian awan menggugurkan tangis cintanya. Sementara hati jerit mendambakan peluk-cium-belaimu; hujan. Ibnu Nafisah Kendari, 24 Oktober 2015