Posts

MARTABAK love TERANG BULAN

PUISI PATIDUSA *************** Kencan Bertabur jua Kacang susu ketan Terang bulan lahap berdua Malam hanya milik kita Penjual dan lainnya Cuma numpang Doang Bintang Pun melintang Berharap gabung bersama 'Tuk nikmati hati berbunga Di wajan ada martabak Bermandi ciuman minyak Hangat gerobak Merebak Biasa Atau spesial Mungkin jumbo bisa Lebih menggugah selera akal Ketika kuliner umbar cinta Di pinggir jalan Semua pecinta Kerasukan Ibnu Nafisah Kendari, 16 September 2015

MUSIM KEMARAU

Sebelum Revisi PUISI HAIKU *********** Musim nan panas Daun pun berguguran Angin berhembus Rumput tak hijau Pohon randu meranting Jadi cokelat Burung mengepak Terbang jauh di langit Awan pun cerah Si gadis manis Berjubah merah sedih Senyum menghilang Hutan terbakar Asap terhirup sesak Alam berkabut Sesudah Revisi MUSIM KEMARAU Musim nan panas Daun ranting meranggas Angin mengganas Rumput tak hijau Pohon randu merantau Jauh meracau Burung mengepak Terbang tinggi berontak Awan terkoyak Si gadis sedih Berjubah merah pedih Senyum meletih Hutan terbakar Asap mengepung samar Kabut berpendar Ibnu Nafisah Kendari, 16 September 2015

HARI KELAHIRAN

(Hari peringatan pertama kali kita berjumpa : Xaviera Nafisah) Sayang, Ini hari kelahiranmu Hari di mana kau datang Membawa sejuta rindu Ketika itu rasanya tak karuan Resah bertukar tangkap bahagia Demi melihatmu penuh keharuan Wajah yang imut lucu dan ceria Kau adalah Srikandi jagoan Ayah Montok berisi dan tidur sepanjang hari Tangis dan tawamu adalah berkah Sehingga Ayah selalu senyum sendiri Ah, masa itu tak bisa terlupa Kini engkau telah beranjak dewasa Tak suka lagi bermanja-manja Atau menangis mengiba Sayang, Hari ini tepat hari kelahiranmu Awal mula engkau bertandang Hari seperti pertama kali bertemu Datang kemari Dekap dan peluk ceria Sebagai hadiah yang Ayah beri Atas keberhasilanmu kenal dunia Sayang, Anakku tersayang Engkau akan tetap jadi cinta di hati Rahmat yang tak akan terganti Meski waktu berlipat Dan hari tak lagi lihat Ibnu Nafisah Kendari, 16 September 2015

LANGGAR

PUISI PATIDUSA *************** (Suatu jejak di udara gelap) Kaki Napak meniti Terobos subuh pagi Angin berlalu dan pergi Suara itu tuntun tubuhnya Ia pecahkan gelap Nyalang matanya Sigap Sarung Berkibar lambai Seiring langkah mendayung Debu melesak ditimpa, merandai* Ia Jalan sepi Hasratnya tak sia Rontak menerjang badai tempuhi Di sinilah ia meradang Ratakan kepala sujud Berapi-api kadang Mengujud** Catatan Kaki: *jalan melalui **menjadi sesuatu yang dikehendaki Ibnu Nafisah Kendari, 18 September 2015

DEDAR

(Ketika hati terasa panas) Siang itu matahari kalap. Matanya nanar natap. Tembusi  Hati yang ratap. Aku dikejar rasa bahang*. Turuti jiwa beringsang**. Demi sebuah cinta yang berbayang. Amarah layaknya bara. Saling panggang di hati nara***. Lalu jadi debu di udara. Di sinilah aku berteduh. Pohon rindang tempatku mengeluh. Yang daunnya serupa kubah galuh. Memanggil jiwa haus cinta-Mu. Seumpama air tetesi rinduku. Obati dahaga kian meramu. Catatan Kaki: *panas dari api/suhu tubuh **panas ***orang/manusia Ibnu Nafisah Kendari, 18 September 2015

MAMA, AKU, DAN PASAR

PUISI PATIDUSA ************** (Suatu hari di akhir pekan) Mama Siang itu Sayur mayur menyapa Di pasar, ikan merayu Mereka ingin terjual terbeli Saat belai rayu Sentuh jamahi Kulitmu Rambut tertiup tergerai Seiring suara mubut* Saat menawar penjual ramai Aku hanya sebuah bayang Temani tubuh sepuh Semakin sayang Rapuh Mama Aku ingin Hadir di dada Jadi tameng bah rangin** Menginjak segala tanda jejak Bertahun lalu terpijak Hingga nanjak melanjak*** Catatan Kaki: *rapuh **perisai panjang ***mencapai usia tinggi Ibnu Nafisah Kendari, 20 September 2015

KOTA MAKASSAR

(Hilang kata di kota ini) PAGI HARI LARI PAGI KAKI LARI CARI KAKI KATA KOTA KAYA KATA RASA KAYA KITA RASA DEBU HARI RABU TABU HATI RABA PAHA KAKU JARI RASA PILU  BEKU LARI PAGI JADI SERU BIRU RATU BATU BIRU BAJU BARU SATU BAJU JARI LARI KOTA BARU PAGI HARI KITA SARU* *Samar Ibnu Nafisah Asrama Pabaeng-baeng, Makassar, 05 September 2015