Posts

SARAK

SARAK Akulah bibir yang menampung segala cemas saat kau menjadi air di gelas Namun panas parasmu membakar hingga lidah pisah dahaga pada telaga Ingin menjadi pagi membagi sinar hangat dikuntum sang kinasih Tapi bunga layu bagai lagu tanpa syair syiar musik mengalun mengayun Kau asin laut larung dalam tiap cekung samudera Juga ombak yang tak mudah tertebak kapan menjebak Jadi nelayan atau ikan bermain di bawah senyum takdirmu Aku adalah awan tak mampu merabah langit meski bersisian Atau hujan tak jelas jatuhnya karena angin bermain tak tentu Karena linang matamu merambah lubang sedih juga pedihku Ibnu Nafisah Kendari, 27 April 2016

MENUNGGU

MENUNGGU Waktu pun mengetuk Hingga hari mengutuk Tiada jawab terbentuk Mencarimu di udara Kemana langit bermuara Kau tak bersuara Inikah janji hening Bagai kolam bening Kau hanya bergeming Deretan gigir gelisah Bermain memulai kisah Hingga menerus kelesah Ibnu Nafisah Kendari, 26 April 2016

KANGEN

KANGEN Mungkin tak ada kata yang cukup Atau bibir mampu menampung Rasa meluap 'kan mengungkap Masih terngiang desahmu tentang langit semerah bata Laut bersuara burung sewarna bola api yang enggan membara Atau kapal-kapal terombang-ambing mengembara Rambutmu pecah bersama ombak Berurai senyum pukul jiwa berontak Kita saling menatap angin beranjak Tak ada jawab yang mampu merangkum Kau terlipat dalam waktu dan aku semakin jauh terbungkam Hingga waktu bergerak berlompat terjerembab mendekam Akhirnya cuma serpihan genangan Terbaca di lembayung kenangan Tentang senja dalam keremangan Ibnu Nafisah Kendari, 26 April 2016

BENAR KATA SS

BENAR KATA SS Kita hanyalah ruang kosong Berharap menampung udara Namun tak kuasa bersuara Ingin menjadi cangkir di pagi hari Dengan kopi sebagai isi Tapi pahit berselisih Lengkung langit maha luas Gugusan planet meruah Tak terjangkau dan puas Benar kata SS Kita adalah padang panjang Gersang bertalu gendang Tiada pohon merindang Rongga dada yang berdegup Jantung dan paru kian redup Kita sesak sesal menghirup Benar kata SS Benar sebataS napaS Ibnu Nafisah Kendari, 24 April 2016

AKU MENCINTAI

Aku mencintai Aku mencintaimu seperti amarah api pada kayu Menghanguskan bara jadi debu Aku mencintaimu bak ombak yang bergulung Menenggelamkan buih hayutkan gunung Ibnu Nafisah Kendari, 22 April 2016

LEMARI

LEMARI Berlembar pakaian tak lagi terlipat di sana Kain yang telah tercuci hanya terkunci Segala gelisah rasa beradu berpadu jadi satu Akulah pakaian bersih yang tersimpan menyimpang Bergumul sakit dalam almarimu penuh keluh Berdiam diri sendiri menempati ruang yang meraung Mencoba memadati menyadari isi jiwa seakan sesak mendesak Membukamu adalah tantangan pantangan sekaligus Sekali tersingkap terungkap jadi ganjalan ganjaran Menguak menguap segala ucap salah dulu terlupa Kau adalah peti rahasia di kamar tersamar Kan tertutup terkatup setiap saat tanpa sadar Kau pula kotak pandora jadi sayang pun jadi bayang Menggalimu bagai mengail resah di air mengalir Hingga akhirnya ragu terlahir terlampir dibilah pintu Membeku digagang pegangmu menutup segala rahasia risalah Ibnu Nafisah Kendari, 20 April 2016

LAMARAN

LAMARAN ( Suatu ketika berada dalam perayaan hajatan lamaran ) Harusnya rumah berdinding bata itu adalah kamu Berkumpul menampung menanggung suara beradu Para tetua lapang dada suka cita menyambut Pemuda riang gembira berkumpul mengepul menanti Seandainya akulah sang pendekar dari negeri seberang itu Bertandang bertampang satria meminang sang putri ujung negeri Mungkin saat ini adalah awal dongeng seribu satu malam kata Pertemuan dua adat dalam suatu ayat jadi cerita hajat kita Mimpi yang sebentar lagi akan terwujud Rasa yang tak mudah kemudian jadi terujud Ibnu Nafisah Kendari, 19 April 2016